iklan mudah

Jumat, 29 Agustus 2014

Jamaah Haji dari Berbagai Negara Mulai Penuhi Masjid Nabawi

Elvan Dany Sutrisno

Madinah - Tak lama lagi musim haji 2014 akan berlangsung. Jutaan jamaah haji dari seluruh dunia akan menunaikanb ibadah haji pada tahun ini.

Seperti diberitakan sebelumnya situasi di Masjidil Haram di Makkah masih lengang. Belum banyak terlihat jamaah haji dari berbagai negara. Namun demikian jamaah dari berbagai negara terlihat di Masjid Nabawi di Madinah. Jamaah haji dari India, Malaysia, Thailand, dan lainnya memenuhi Masjid Nabawi, untuk menjalankan ibadah Salat Jumat di Masjid Nabawi yang indah itu.

Sementara jamaah Indonesia yang sudah menjalankan ibadah di sana baru petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) gelombang pertama yang masuk ke Madinah sejak Kamis 28 Agustus malam. Sejumlah petugas haji memang sudah ditempatkan di lokasi daerah kerja masing-masing setelah melakukan ibadah umroh kenarin. Jarak kantor Daerah Kerja petugas haji di Madinah tidak sampai 1 km.

Jamaah haji Indonesia baru akan tiba pada 1 September mendatang. Jumlah total jamaah haji Indonesia untuk tahun 2014 mencapai 168.800 orang. Jamaah bisa mengikuti khotbah yang disampaikan Khotib dari Masjid Nabawi dengan mendengarkan terjemahaan berbagai bahasa melalui radio yang bisa diakses secara online.


Masjid Nabawi sangat padat. Setiap salat Jumat memang Masjid Nabawi sangat penuh. Di musim haji, halaman depan Masjid Nabawi sampai ke jalan raya di depan pusat perbelanjaan juga digunakan untuk salat Jumat.

Menurut Abdul Aziz yang sudah setahun merantau dari Jombang ke Madinah, pada saat puncak haji nanti jamaah harus berangkat pukul 09.00 waktu setempat untuk bisa salat di barisan terdepan.
http://news.detik.com/read/2014/08/29/155630/2676315/10/jamaah-haji-dari-berbagai-negara-mulai-penuhi-masjid-nabawi?n991102605

Rabu, 11 September 2013

Dubes RI sambut kedatangan kloter pertama

Selasa, 10 September 2013 23:50 WIB | Dilihat 934 Kali
Jeddah (ANTARA News) - Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansyur menyambut kedatangan jamaah haji Indonesia kelompok terbang (kloter) pertama Embarkasi Padang (PDG) Provinsi Sumatera Barat yang mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, sekitar pukul 11.11 WAS, Selasa.

Pesawat Garuda GA. 3301 dari Sumatera Barat mendarat terlambat sekitar 30 menit dari jadwal yang direncanakan pada pukul 10.40 WAS. Setelah prosesi imigrasi, satu persatu jamaah haji Indonesia keluar dari bandara dengan tas berwarna biru dan baju batik bernuansa hijau.

Petugas haji yang mengenakan seragam biru dan celana gelap, dengan cekatan membantu dan memandu mengarahkan jamaah ke ruang tunggu.

Seremonial penyambutan dilakukan sekitar pukul 13.00 WAS. Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah yang didampingi Wakil Kepala Muassasah Asia Tenggara Mustafa Damanhuri, Kepala Kantor Urusan Haji Saeroji Dimyati, dan Kepala Daerah Kerja Jeddah Endang Jumali, mengucapkan selamat datang kepada para jamaah.

Ia menyarankan kepada para jamaah  agar tidak memaksakan diri dalam menjalankan  ibadah-ibadah sunah, sebab suasana Makkah pada saat itu masih panas dan masa tinggal masih lama.

Dubes RI juga meminta kepada para jamaah agar menjaga kesehatan selama dalam melaksanakan ibadah di Tanah Suci. “Perbanyaklah minum air dan konsumsi buah-buahan,” ujarnya seperti dikutip Media Center Haji di Jeddah.

Pada kesempatan penyambutan itu, Gatot Abdullah secara simbolik memberikan sebuah surban dan sajadah kepada dua orang perwakilan jamaah.

Sementara Wakil Ketua Muassasah, Mustafa Damamhuri yang turut menyambut kedatangan jamaah, menyatakan siap untuk memberikan pelayanan kepada jamaah. Ia berjanji  akan selalu memberikan kemudahan bagi jamaah haji Indonesia.

Seusai prosesi penyambutan, jamaah  langsung diberangkatkan menuju Madinah dengan menggunakan bus Dallah dari Sarikat (PT) Dallah.

Selain dari embarkasi Padang (PDG), jamaah haji Indonesia dari Embarkasi Solo kloter pertama (SOC 1) juga telah mendarat di Jeddah pada pukul 13.18. Adapun kloter kedua (SOC 2), dilaporkan telah mendarat di Jeddah pada pukul 15.42 WAS.

Sementara dari Madinah dilaporkan bahwa jamaah haji Indonesia dari Embarkasi Batam (BTH) telah mendarat di Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah pada pukul 14.35 WAS atau lebih cepat 15 menit dari yang dijadwalkan, yaitu: 14.50 WAS.

http://infohaji.antaranews.com/berita/395025/dubes-ri-sambut-kedatangan-kloter-pertama

Jumat, 16 Agustus 2013

Malam Ke-29 di 400 Meter Ketinggian

Senin, 12 Agustus 2013

Dari lantai atas Hotel Fairmont Makkah ini saya bisa menatap Kakbah yang agung di tengah-tengah pusaran manusia yang lagi tawaf di Masjidilharam. Di lantai inilah saya siap-siap salat Tarawih malam itu, malam ke-29 bulan puasa. Di lantai ini pulalah saya diagendakan bertemu pemilik kerajaan bisnis Saudi Binladin Group, Syekh Bakr bin Ladin.
Inilah lantai tempat Syekh Bakr tinggal. Salah satu ruangannya dijadikan tempat salat. Yakni, ruang yang persis menghadap ke Masjidilharam. Dari kaca ruang ini, lautan manusia di bawah sana terlihat menyemut. Masjid yang terang lampunya bak siang itu, dengan menara-menara yang gemerlap bercahaya. Manusia di dalamnya terlihat tidak henti-hentinya memutari Kakbah.
Dari sini pula terlihat bangunan baru yang arsitekturnya mirip Masjidilharam. Inilah bangunan tambahan yang besarnya melebihi Masjidilharam itu sendiri. Bangunan ini hampir jadi. Letaknya persis di sebelahnya dalam posisi menonjol karena bertumpu di bukit yang lebih tinggi. Lokasi ini dulu dikenal sebagai Hotel Makkah dan sekitarnya. Bulan puasa tahun depan bangunan ini jadi 100 persen.
Dari arah atas ini pula terlihat seperempat bagian Masjidilharam yang dibongkar dan kini dibangun lagi. Di bagian inilah BUMN PT Waskita Karya (Persero) Tbk ikut berperan. Proyek ini didapat Waskita dari kontraktor utama Binladin. Tiap tahun ditargetkan seperempat pembongkaran dilakukan untuk dibangun kembali. Dengan demikian, seluruh Masjidilharam selesai direnovasi pada 2018. Berarti, selama itu pula Waskita terus bekerja di sana. Insya Allah.
Dari kamar khusus Syekh Bakr itu semua aktivitas di Masjidilharam dan sekitarnya terlihat sempurna. Saya, Dirut Waskita Karya M. Choliq, dan manajer Waskita di Arab Saudi, sudah siap di kamar itu menjelang azan Isya. Kami ditemani beberapa staf inti Binladin Group. Termasuk adik kandung Syekh Bakr yang juga direktur keuangan grup itu.
“Syekh masih di sana, tapi segera tiba,” ujar salah satu staf inti Binladin Group. Berkata begitu dia sambil menunjuk bangunan tinggi di sebelah Masjidilharam, arah kanan depan Hotel Fairmont. Itulah bangunan tempat raja Arab Saudi dan keluarganya tinggal untuk beribadah selama 10 hari terakhir bulan puasa.
Syekh Bakr bin Ladin masih di gedung kerajaan itu. Kami pun salat Tarawih mengikuti imam Masjidilharam. Sound system di kamar itu memang tersambung sound system masjid. Azan dan suara imam juga tersambung ke seluruh kamar hotel sehingga banyak penghuni hotel yang salat lima waktu di kamar masing-masing dengan imam dari Masjidilharam.
Usai salat Tarawih, yang ditunggu pun tiba. Syekh Bakr ternyata cukup santai, tanpa tutup kepala dan bicaranya ceplas-ceplos seperti umumnya pengusaha. Di situlah kami membicarakan proyek-proyek Waskita dan masa depannya. Termasuk keinginan Syekh Bakr untuk terus menambah orang agar Waskita bisa ikut mempercepat penyelesaian proyek.
“Di sini selalu diinginkan serbacepat. Proyek lima tahun kalau bisa selesai dalam dua tahun,” kata Syekh Bakr.
Ternyata Syekh Bakr juga sudah tahu maksud kedatangan saya. “Waskita akan kami ikutkan di proyek perluasan Masjid Nabawi di Madinah,” tegasnya. “Kalau perlu, tidak hanya proyeknya. Juga sampai pemeliharaannya,” tambahnya.
“Pokoknya peranan Waskita harus kita tingkatkan terus,” katanya lagi. Kali ini sambil menatap wajah-wajah staf intinya.
Entah apa yang baru dia bicarakan di gedung kerajaan di sana. Yang jelas, malam itu Syekh Bakr menyambut baik semua rencana kami. Termasuk mengundangnya untuk berinvestasi di Indonesia. “Kami akan serius masuk Indonesia,” katanya.
Yang juga terlihat spontan adalah kata-kata terakhirnya kepada para stafnya: tiap tahun beliau ini harus jadi tamu kita di sini, dan malam ini antarkan beliau ke atas!
Saya tidak menyangka mendapat kesempatan naik ke ketinggian 400 meter di puncak bangunan itu. Yakni, ke ruangan yang terletak di balik‚ Jam Makkah‚ warna hijau yang terlihat dari seluruh penjuru kota, bahkan terlihat dari Mina dan Muzdalifah itu. Inilah jam terbesar yang diletakkan di ketinggian tertinggi di dunia. Kalau Big Band London yang terkenal itu tingginya hanya enam meter, Jam Makkah ini 43 meter!
Tulisan “Allah” (dalam huruf Arab) yang ada di dekat jam itu terbesar dan tertinggi di dunia. Panjang huruf alifnya saja 23 meter.
Ruangan di balik jam itu ternyata dijadikan diorama untuk menunjukkan keagungan jagat raya. Foto tiga dimensi matahari, lengkap dengan inti matahari, ada di situ. Demikian juga foto tata surya, jagat raya, dan planet-planetnya. Termasuk pergerakan putaran bumi dan planet-planet lainnya. Ayat-ayat Alquran yang terkait dengan alam raya di-display di sana-sini.
Di ruang ini kita sungguh mengagumi terciptanya alam raya. Dan, lebih-lebih mengagumi penciptanya.
Jam itu benar-benar raksasa. Empat buah jumlahnya untuk empat penjuru angin. Beratnya 23 ton!
Warna dasar jam itu hijau. Warna itu dibentuk oleh lampu-lampu LED dengan background material warna putih. Untuk menghijaukan warna empat jam itu diperlukan dua juta lampu LED.
Jarum jamnya dibuat warna putih yang juga terbentuk oleh lampu LED bercahaya putih, dengan dasar material hitam.
Pilihan warna dasar hijau dan jarum putih ini berdasar hasil riset yang mendalam. “Warna hijau dan putih adalah warna yang bisa terlihat dari jarak paling jauh. Sejauh apa pun, Anda masih bisa melihat jam ini dengan jelas. Kalau warna lain, tidak akan sejelas hijau dan putih,” ujar seorang Jerman, muslim, arsitek gedung sekaligus pendesain jam ini. Saya beruntung bahwa dia diminta mendampingi saya untuk menjelaskan semua itu.
Keperluan listrik untuk jam ini saja, ampun-ampun, 2 MW! Maklum, mesin jam itu (bisa kami lihat dari arah belakang jam) seperti gigi-gigi mesin pabrik gula!
Di ketinggian 400 meter itu (sekitar empat kali tinggi Monas) juga tersedia balkon. Kita bisa ke luar gedung untuk melihat Kakbah dari atas. Juga untuk melihat seluruh Kota Makkah. Allahu Akbar!
Tidak hanya Fairmont yang ada di gedung ini. Juga beberapa hotel lain. Superblok ini (disebut Clock Tower) memang sangat besar. Lantai bawahnya dibuat mal yang di waktu salat diubah jadi tempat salat berjamaah. Lantai mal ini memang connect dengan halaman Masjidilharam. Beberapa lantai bagian depan superblok ini juga untuk masjid yang makmum ke imam Masjidilharam.
Di salah satu ruang di Clock Tower ini pula saya menerima Presiden Islamic Development Bank (IDB), Dr Ahmed Muhammed Ali, sehari sebelumnya. Terutama karena IDB memiliki fasilitas kredit ekspor. Fasilitas inilah yang harus dimanfaatkan PT Dirgantara Indonesia (Persero) untuk menjual pesawat ke negara-negara anggota IDB. Saya minta manajemen PT DI serius menindaklanjutinya.
Bahkan, kalau perlu, BUMN lain tidak usah memanfaatkan kredit IDB. Seluruh dana IDB untuk Indonesia yang sebesar Rp 30 triliun bisa dialokasikan untuk penjualan pesawat PT DI. Adapun untuk dermaga Pelabuhan Belawan, Medan, misalnya, Pelindo I sebenarnya mampu membiayainya sendiri. Bahkan, bisa lebih cepat terwujud.
Kalau BUMN lain meminjam dana itu, BUMN itu yang harus mengembalikannya. Tapi, kalau PT DI yang dapat fasilitas itu, negara pembeli pesawat yang harus melunasinya. Dr Ahmed terlihat antusias untuk bisa membiayai ekspor pesawat PT DI. ‚”Saya pernah berkunjung ke PT DI di Bandung. Saya sangat terkesan,” katanya. “Waktu itu saya diundang Dr Habibie,” tambahnya.
Indonesia adalah anggota penting IDB. Juga salah satu pendirinya. Ulang tahun ke-40 IDB tahun depan, ada baiknya ditandai dengan terealisasinya kredit ekspor untuk PT DI itu. (*)

Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN